Tampilkan postingan dengan label alergi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label alergi. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Februari 2022

Waspada! Cek Kesehatan Anak di Klinik Alergi Anak

Posted by Bundamedik Healthcare System on 13.43 with No comments

Orang tua perlu mewaspadai alergi pada anak melalui tanda dan keluhan yang dirasakan, karena sejumlah jenis alergi bisa mengancam jiwa. Hal ini menjadi penting untuk mengetahui alergi pada anak sejak dini, salah satunya melalui konsultasi di Klinik Alergi Anak. Namun, sebenarnya apa itu alergi? Yuk simak pembahasan lebih lanjut mengenai alergi di bawah ini.

Pengertian Alergi

Sistem kekebalan tubuh berperan sebagai pembasmi benda asing atau zat yang dianggap berbahaya dalam tubuh, seperti virus, racun dan kuman. Namun, sistem kekebalan tubuh bisa bereaksi secara berlebihan terhadap suatu zat atau benda yang sebenarnya tidak berbahaya yang akhirnya menimbulkan alergi. Oleh karena itu, alergi dapat diartikan sebagai reaksi kekebalan tubuh (respon imun) yang berlebihan terhadap suatu hal tertentu, yang seharusnya tidak timbul reaksi bagi orang lain. 

Umumnya, alergi muncul pada usia anak-anak dan mulai mereda seiring bertambahnya usia. Reaksi terhadap alergi tiap anak berbeda, seperti ruam kulit, batuk, flu, hingga sesak napas. Lalu, apa saja yang bisa menjadi penyebab alergi pada anak? Simak penjelasannya di bawah ini.

Penyebab Alergi

Alergi dapat disebabkan oleh beberapa hal. Penyebab dan reaksi alergi yang dirasakan pada anak juga berbeda-beda. Berikut merupakan beberapa faktor penyebab alergi pada anak:

1. Faktor Genetik

Kemungkinan anak mewarisi alergi pada Ibunya sebesar 40%. Hal ini diakibatkan karena alergi dapat diturunkan secara genetik. 

2. Faktor Makanan dan Minuman

Umumnya, zat pada makanan yang dapat memicu alergi pada anak ditemukan pada susu sapi, cokelat, minuman dingin, atau makanan yang mengandung pengawet. Anak juga bisa terpapar zat alergen melalui ASI, dikarenakan bahan makanan yang Ibunya konsumsi.

3. Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan seperti cuaca, polusi udara, asap rokok, bulu hewan, tungau, dan lainnya dapat menjadi pemicu alergi pada anak. 

Jenis-jenis Alergi

Alergi memiliki banyak jenis dengan reaksi berlebihan sistem kekebalan tubuh yang berbeda-beda. Berikut merupakan jenis-jenis alergi yang seringkali ditemukan pada anak:

1. Alergi Makanan

Alergi makanan pada anak muncul dikarenakan zat tertentu yang ada makanan dianggap berbahaya oleh sistem kekebalan tubuh. Gejala yang umum muncul apabila memiliki alergi terhadap makanan tertentu ditandai dengan ruam pada kulit dan terasa gatal, mual, diare, hingga sesak napas. 

2. Alergi Debu

Alergi debu pada anak umumnya terjadi ketika menghirup debu yang terbawa melalui udara. Selain itu, alergi debu juga bisa dipicu melalui kotoran tungau, spora jamur, serbuk sari tanaman, atau juga bulu hewan. Reaksi yang muncul akibat alergi debu seperti asma dan rhinitis alergi yang ditandai dengan gejala pilek, bersin, mata berair, hidung gatal, hingga hidung tersumbat.

3. Alergi Obat

Alergi obat pada anak dapat terpicu oleh zat yang terkandung dalam suatu obat. Gejala yang dapat muncul pada alergi obat ditandai dengan gatal-gatal, ruam kulit, pilek, pembengkakan, mata berair, demam, hingga sesak napas. 

4. Alergi Dingin

Alergi dingin pada anak ditandai dengan kulit memerah, bengkak, hingga gatal. Salah satu cara untuk meredakan alergi dingin pada anak adalah dengan memberikan baju tebal dan makanan atau minuman hangat untuk menurunkan suhu tubuh anak. 

5. Alergi Bulu Hewan 

Alergi bulu hewan pada anak dapat ditandai dengan gatal pada kulit, bersin, hingga sesak napas ketika berdekatan dengan hewan. 

6. Alergi Zat Kimia

Reaksi zat kimia pada anak dapat disebabkan oleh zat kimia yang terkandung pada beberapa produk, seperti deterjen, pewangi pakaian, dan produk lainnya yang berkenaan langsung pada anak. Alergi ini ditandai dengan gatal-gatal dan ruam pada kulit.

7. Eksim Atopik

Alergi ini umumnya muncul pada anak usia bayi. Namun, tak sedikit juga usia dewasa yang mengalami alergi eksim atopik. Beberapa pemicu alergi eksim atopik meliputi cuaca, makanan, bulu hewan, hingga bahan pakaian yang dikenakan. Reaksi yang timbul dari alergi ini ditandai dengan ruam pada kulit, gatal-gatal, dan kulit bersisik. 

Kunjungi Klinik Alergi Anak

Kapan saat yang tepat untuk mengunjungi Klinik Alergi Anak? Semakin dini alergi pada anak diketahui, semakin jelas pula cara penanganan alergi pada anak oleh orang tua. Penting untuk mengetahui alergi pada anak sejak dini agar anak bisa mendapatkan penanganan yang tepat. 

Klinik Alergi Anak dapat membantu orang tua untuk mengidentifikasi jenis dan penyebab alergi yang diderita anak. Melalui Klinik Alergi Anak, dokter dapat melakukan pemeriksaan yang tepat dengan menentukan terapi yang sesuai bagi anak. 

Reservasikan jadwal pemeriksaan kesehatan anak Anda di Klinik Alergi Anak. Ketahui juga jadwal dokter di unit-unit RS Bunda Group sekitar Anda dan reservasi kunjungan Anda di sini. Demi kemudahan Anda dan keluarga, kunjungi juga laman informasi kami untuk menemukan layanan-layanan kesehatan lainnya.







www.bunda.co.id

Senin, 08 November 2021

Kenali Pemicu Alergi Anak

Posted by Bundamedik Healthcare System on 08.54 with No comments
Pemicu alergi atau hipersensitivitas ini biasa disebut dengan alergen. Tahukah anda bahwa alergen bisa bermacam-macam, mulai dari bulu binatang, debu, sampai makanan tertentu seperti telur dan kacang-kacangan. Ketika alergen bersentuhan dengan tubuh, bisa dari sentuhan atau sempat masuk ke dalam tubuh, maka sistem kekebalan tubuh memproduksi sejenis protein yang menyebabkan reaksi tidak wajar.

Berikut ini adalah beberapa jenis alergi yang cukup umum terjadi di sekitar kita :
  • Alergi makanan (termasuk susu sapi)
  • Alergi obat
  • Alergi racun serangga (sengatan)
  • Alergi bulu binatang
  • Alergi lateks
  • Alergi zat kimia tertentu
  • Alergi musiman (misalnya karena serbuk sari atau udara dingin)





















Senin, 04 Oktober 2021

Deteksi Dini Alergi Pada Anak Anda

Posted by Bundamedik Healthcare System on 08.54 with No comments
Meningkatnya kasus alergi beberapa waktu belakangan ini membuat banyak orangtua was-was akan kondisi kesehatan sang buah hati. Betapa tidak, alergi membuat aktivitas sang buah hati menjadi terganggu sehingga mengurangi keceriaannya. Tapi, Bunda tidak perlu khawatir, alergi dapat ditangani  apabila orangtua melakukan tiga langkah, yaitu  Kenali, Konsultasikan dan Kendalikan. 

Selain itu, mendeteksi gejala alergi sekaligus mengetahui faktor-faktor pemicu alergi sedini mungkin juga menjadi faktor penting untuk mengendalikan alergi. Beberapa cara di bawah ini bisa Bunda terapkan pada si Kecil:

Deteksi riwayat kesehatan orangtua

Risiko alergi pada anak bisa diperkirakan dengan mengamati riwayat kesehatan orangtua. Jika kedua orangtua mengidap alergi, maka risiko anak mengalami alergi adalah 40-80%. Jika salah satu orangtua yang alergi, risikonya menjadi 20-40%. Sedangkan, bila kedua orangtua tidak menderita alergi, Si Kecil masih tetap berisiko mengalami alergi antara 5-15%. Kian tinggi risiko, orangtua perlu lebih cermat mengantisipasi kondisi alergi yang kemungkinan akan dialami si Kecil.

Deteksi dari dalam kandungan

Secara teori, deteksi dini alergi sudah bisa dilakukan sejak dalam kandungan. Meski masih perlu dilakukan penelitian mendalam, sebuah studi yang dipublikasikan di World Allergy Organization Journal (2009), mengungkapkan bahwa paparan terhadap zat alergen tertentu pada ibu hamil bisa memicu respon imun pada janin. Selain itu, perubahan gerakan janin juga diduga memiliki korelasi terhadap risiko timbulnya alergi pada sang bayi di kemudian hari; gerakan janin yang amat meningkat terutama pada malam hingga pagi hari merupakan faktor prediktif yang cukup kuat bahwa bayi berisiko alergi.

Deteksi di usia batita

Gejala alergi bisa muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari suara napas berat (berbunyi “grok-grok”) pada bayi, sakit perut (kolik), kulit sensitif (sering muncul bintik atau bisul kemerahan pada pipi, telinga, dan daerah yang tertutup popok), sering menderita pilek berkepanjangan, sering bersin dan batuk - terutama di malam dan pagi hari, kotoran telinga berlebihan, dan sebagainya. Jika si kecil mengalami gejala tersebut, konsultasikan pada dokter mengenai kemungkinan ia menderita alergi.

Deteksi secara ilmiah

Jika si kecil mengidap alergi, Anda bisa memastikan zat-zat apa saja yang menjadi faktor pencetusnya melalui tes berikut ini:

Skin Prick Test (Tes Tusuk), Melalui Skin Prick Test (SPT), dokter akan meneliti reaksi tubuh terhadap lebih dari 33 jenis alergen, mulai dari alergen yang dihirup (debu, tungau, serbuk bunga, dll) sampai alergi makanan (susu, seafood, kacang, dll). Pemeriksaan dimulai dengan cara meneteskan beberapa jenis cairan alergen pada kulit area lengan bawah untuk selanjutnya dilakukan penusukan/pencukitan pada kulit tersebut menggunakan jarum khusus. Hasil tes bisa diketahui dalam 15-20 menit.

Tes Darah, Sesuai namanya, pemeriksaan akan dilakukan terhadap sampel darah yang diambil dari tubuh anak. Tes darah biasanya dilakukan terhadap pasien alergi yang tidak bisa menjalani SPT karena berbagai penyebab. Dibandingkan SPT, tes darah membutuhkan biaya yang lebih tinggi meskipun akurasi hasilnya terbilang setara.

Uji Tempel Kulit, Pemeriksaan ini dilakukan untuk evaluasi reaksi hipersensitivitas tipe lambat. Uji tempel kulit dilakukan dengan cara menempelkan alergen pada kulit selama 2-3 hari.





















Selasa, 20 Maret 2018

Penyebab Alergi pada Anak

Posted by Bundamedik Healthcare System on 08.54 with No comments
Si kecil berisiko lebih besar terkena alergi jika memilki riwayat keluarga alergi karena alergi bisa diturunkan secara genetik dari ibu, ayah, kakek, nenek, dan anggota keluarga lainnya meski alergi yang diderita dalam keluarga besar tersebut bisa saja berbeda-beda.

Tahukan anda bahwa ada beberapa faktor dapat dianggap berkaitan dengan munculnya gejala alergi seperti: alergen, infeksi, polusi, aktivitas fisik atau emosi. Secara lebih detail dapat diuraikan contohnya sebagai berikut:
  • Gangguan dari dalam tubuh sendiri (lapisan saluran napas, usus, atau kulit),
  • Faktor lingkungan (polusi udara, terpapar asap rokok, ventilasi kurang baik), atau
  • Hipotesis hygiene, yaitu anak yang sering kena infeksi (atau mendapat imunisasi vaksin hidup) saat kecil, justru jarang mengalami alergi.
  • Faktor genetika akibat sistem imunitas atau daya tahan tubuh yang tidak normal.
Apabila anda bingung dalam menentukan apakah gejala yang muncul pada si kecil merupakan reaksi alergi atau ada indikasi dari penyakit lain, silahkan konsultasikan dengan dokter anak anda.


















Beberapa Macam Alergi pada Anak

Posted by Bundamedik Healthcare System on 08.54 with No comments
Alergi pada anak sudah tidak asing lagi bagi kita. alergi tidak hanya pada satu bagian tubuh saja melainkan bisa terjadi pada beberapa bagian tubuh yang lain. Berikut macam-macam alergi dan penjelasannya:

Alergi pencernaan, Alergi dalam pencernaan umumnya terjadi pada bayi usia 1-2 tahun di mana umumnya alergi tersebut di sebabkan dari asupan makanan atau minuman. Bentuk alerginya biasanya di tunjukkan seperti diare ataupun muntah. Cara mengatasinya yakni di berikan oralit dan banyak minum. Jika masih di beri ASI maka berilah ASI sesering mungkin.

Alergi pada saluran pernafasan, Umumnya alergi ini di sebabkan karena udara yang mengandung debu, bahkan cuacapun bisa menjadi pemicunya seperti musim pancaroba. Alergi pada saluran pernafasan biasanya terjadi pada usia balita. Bentuk alerginya yakni asma, hidung gatal, bersin-bersin dan ingus meler. Bentuk alergi yang khas ialah anak menderita sesak nafas. Jika di ketahui tiba-tiba anak menderita gejala seperti tersebut sebaiknya jangan mengobati sendiri. Alangkah baiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter.

Alergi pada kulit, Kulit terasa gatal di sertai kemerahan itu merupakan bentuk alergi yang terjadi pada kulit. Umumnya kulit yang terserang alergi ialah kulit yang tegolong kering. Penyebab alergi ini ialah debu, jamur, tungau bahkan juga bisa dari makanan. Alergi kulit yang terjadi pada anak membuat siklus hidupnya menjadi terganggu terutama saat tidur. Rasa gatal membuat kulit tidak nyaman sehingga tidak dapat tidur dengan nyenyak. Bahkan anak yang menderita alergi kulit akan rewel karena rasa gatal yang tidak nyaman. Alergi ini bisa di atasi dengan bedak anti gatal, namun hanya sementara yakni bedaknya luntur kulit akan kembali gatal. Alangkah baiknya konsultasikaian kepada dokter.

Alergi pada pagi hari (rinitis), Alergi ini tergolong alergi ringan. Di mana alergi ini di sebabkan karena cuaca dingin di pagi hari, pergantian cuaca bisa juga terjadi karena udara yang di penuhi tungau atau debu. Bentuk gejala alergi ini ialah bersin-bersin khususnya di pagi hari , hidung terasa gatal, dan hidung mengeluarkan ingus yang bening. Biasanya alergi ini akan hilang di waktu siang hari.

Alergi pada mata, Alergi mata berhubungan erat dengan alergi hidung, di mana pada saat bersin-bersin mata akan menjadi merah dan berair. Alergi ini di sebabkan adanya kontak dengan lingkungan luar yang banyak debu, polusi dan sebagainya. Penanganan alergi mata yakni di hilangkan pencetusnya.


















Selasa, 20 Februari 2018

Skin Prick Test

Posted by Bundamedik Healthcare System on 09.04 with No comments

Beberapa jenis pemeriksaan penunjang diagnosis penyakit alergi dan imunologi dapat dilakukan walaupun tidak harus dipenuhi seluruhnya. Tiap jenis pemeriksaan mempunyai sensitivitas dan spesifitas yang berbeda.  Prinsip pemeriksaan uji kulit terhadap alergen ialah adanya reaksi wheal and flare pada kulit untuk membuktikan adanya IgE spesifik terhadap alergen yang diuji (reaksi tipe I). Imunoglobulin G4 (IgG4) juga dapat menunjukkan reaksi seperti ini, akan tetapi masa sensitisasinya lebih pendek hanya beberapa hari, sedangkan IgE mempunyai masa sensitisasi lebih lama yaitu sampai beberapa minggu. Reaksi maksimal terjadi setelah 15-20 menit, dan dapat diikuti reaksi lambat setelah 4-8 jam.

Alergi Tipe 1 (IgE-mediated) adalah hasil dari produksi IgE spesifik untuk alergen oleh alergi individu. Kondisi di mana alergi yang dimediasi IgE dapat memainkan peran utama termasuk rhinitis alergi, asma, dermatitis atopik, anafilaksis, urticaria dan angioedema akut, alergi makanan, alergi racun serangga, lateks alergi dan beberapa obat alergi.Tes untuk alergi serum IgE spesifik (juga disebut sebagai tes RAST) juga berguna dalam situasi tertentu.

Ada beberapa cara untuk melakukan uji kulit, yaitu cara intradermal, uji tusuk (prick test), sel uji gores (scratch test) dan pacth test (uji tempel). Uji gores sudah banyak ditinggalkan karena hasilnya kurang akurat.

Uji kulit intradermal  Sejumlah 0,02 ml ekstrak alergen dalam 1 ml semprit tuberkulin disuntikkan secara superfisial pada kulit sehingga timbul 3 mm gelembung. Dimulai dengan konsentrasi terendah yang menimbulkan reaksi, kemudian ditingkatkan berangsur masing-masing dengan konsentrasi 10 kali lipat sampai menimbulkan indurasi 5-15 mm. Uji intradermal ini seringkali digunakan untuk titrasi alergen pada kulit.Tes alergi pengujian injeksi intradermal tidak direkomendasikan untuk penggunaan rutin untuk aeroallergens dan makanan, tetapi mungkin untuk mendeteksi  racun dan diagnosis alergi obat. Ini membawa resiko lebih besar anafilaksis dan harus dilakukan dengan tenaga medis yang berkopeten melalui pelatihan spesialis.

Uji tusuk  Uji tusuk dapat dilakukan dalam waktu singkat dan lebih sesuai untuk anak. Tempat uji kulit yang paling baik adalah pada daerah volar lengan bawah dengan jarak sedikitnya 2 sentimeter dari lipat siku dan pergelangan tangan. Setetes ekstrak alergen dalam gliserin (50% gliserol) diletakkan pada permukaan kulit. Lapisan superfisial kulit ditusuk dan dicungkil ke atas memakai lanset atau jarum yang dimodifikasi, atau dengan menggunakan jarum khusus untuk uji tusuk. Ekstrak alergen yang digunakan 1.000-10.000 kali lebih pekat daripada yang digunakan untuk uji intradermal. Dengan menggunakan sekitar 5 ml ekstrak pada kulit, diharapkan risiko terjadinya reaksi anafilaksis akan sangat rendah.

Uji tusuk mempunyai spesifitas lebih tinggi dibandingkan dengan uji intradermal, tetapi sensitivitasnya lebih rendah pada konsentrasi dan potensi yang lebih rendah. Kontrol Untuk kontrol positif digunakan 0,01% histamin pada uji intradermal dan 1% pada uji tusuk. Kontrol negatif dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan reaksi dermografisme akibat trauma jarum. Untuk kontrol negatif digunakan pelarut gliserin. Antihistamin dapat mengurangi reaktivitas kulit. Oleh karena itu, obat yang mengandung antihistamin harus dihentikan paling sedikit 3 hari sebelum uji kulit. Pengobatan kortikosteroid sistemik mempunyai pengaruh yang lebih kecil, cukup dihentikan 1 hari sebelum uji kulit dilakukan.

Obat golongan agonis β juga mempunyai pengaruh, akan tetapi karena pengaruhnya sangat kecil maka dapat diabaikan. Usia pasien juga mempengaruhi reaktivitas kulit walaupun pada usia yang sama dapat saja terjadi reaksi berbeda. Makin muda usia biasanya mempunyai reaktivitas yang lebih rendah. Uji kulit terhadap alergen yang paling baik adalah dilakukan setelah usia 3 tahun. Reaksi terhadap histamin dibaca setelah 10 menit dan terhadap alergen dibaca setelah 15 menit. Reaksi dikatakan positif bila terdapat rasa gatal dan eritema yang dikonfirmasi dengan adanya indurasi yang khas yang dapat dilihat dan diraba.

Diameter terbesar (D) dan diameter terkecil (d) diukur dan reaksi dinyatakan ukuran (D+d):2. Pengukuran dapat dilakukan dengan melingkari indurasi dengan pena dan ditempel pada suatu kertas kemudian diukur diameternya. Kertas dapat disimpan untuk dokumentasi. Dengan teknik dan interpretasi yang benar, alergen dengan kualitas yang baik maka uji ini mempunyai spesifitas dan sensitivitas yang tinggi disamping mudah, cepat, murah, aman dan tidak menyakitkan. Uji gores kulit (SPT) disarankan sebagai metode utama untuk diagnosis alergi yang dimediasi IgE dalam sebagian besar penyakit alergi. Memiliki keuntungan relatif sensitivitas dan spesifisitas, hasil cepat, fleksibilitas, biaya rendah, baik tolerabilitas, dan demonstrasi yang jelas kepada pasien alergi mereka. Namun akurasinya tergantung pelaksana, pengamatan dan interpretasi variabilitas. 





















Sumber Nutrisi untuk Anak Alergi

Posted by Bundamedik Healthcare System on 09.04 with No comments
Asupan nutrisi seimbang adalah salah satu syarat utama untuk mendukung proses tumbuh-kembang si Kecil. Bukan hanya penting bagi pertumbuhan fisik, nutrisi yang baik juga mutlak diperlukan untuk memupuk kecerdasannya. Masalahnya, bagaimana bila si Kecil mengidap alergi sehingga harus menghindari jenis-jenis makanan tertentu? Penelitian menyatakan bahwa anak dengan alergi makanan berpotensi mengalami defisit pertumbuhan akibat terbatasnya jenis makanan yang bisa disantap serta durasi memantang makanan.

Meski kendala ini dihadapi oleh para orangtua yang memiliki anak dengan alergi makanan, namun Bunda tak perlu khawatir. Pasalnya, timbulnya gejala alergi dapat diminimalisir dengan memilih makanan pengganti yang tetap dapat memenuhi kebutuhan nutrisi si Kecil. Jadi, meski mengidap alergi makanan, ia tetap bisa tumbuh sehat karena mendapatkan asupan nutrisi yang baik dan seimbang. Namun jangan lupa untuk konsultasikan dengan dokter anak Anda untuk penanganan nutrisi yang tepat. Berikut tips yang bisa Bunda terapkan untuk mengendalikan kualitas asupan nutrisi bagi si kecil:

Alergi susu

Nutrisi dalam susu: protein, kalsium, fosfor, serta vitamin A, D, dan B12.

Jika si kecil alergi terhadap susu dan produk olahannya, maka Bunda bisa memperbanyak asupan jenis makanan berikut untuk menggantikan asupan susu: formula kedelai, formula khusus untuk anak alergi dengan rekomendasi dan pengawasan oleh dokter spesialis anak,daging sapi, daging kambing, makanan laut seperti ikan dan tiram, daging unggas, telur, sayuran berdaun hijau, kacang-kacangan, dan jenis bahan pangan lain seperti sereal yang telah mendapat tambahan kandungan kalsium (calcium-fortified).

Alergi telur

Nutrisi dalam telur: protein, zat besi, asam folat, serta vitamin A, D, E, B12

Pada sejumlah kasus, reaksi alergi terhadap telur bisa diredakan dengan memasak telur hingga matang sepenuhnya (jangan sajikan telur setengah matang). Tetapi jika si kecil betul-betul tidak bisa mengonsumsi telur sama sekali, Bunda bisa menggantinya dengan jenis makanan berikut: daging sapi, daging kambing, daging unggas, susu dan produk olahannya, buah-buahan, kacang-kacangan, biji-bijian, serta sayuran berdaun hijau seperti asparagus, bayam, katuk, dll.

Alergi gandum

Nutrisi dalam gandum: vitamin B, zat besi

Jika si kecil alergi terhadap gandum, Bunda bisa menggantikan tepung terigu—yang sering digunakan untuk membuat berbagai jenis makanan; dengan jenis tepung lainnya seperti tepung beras dan tepung jagung. Tambah pula jenis makanan yang kaya zat besi, seperti sayuran berdaun hijau, buah bit, daging sapi, daging kambing, dan jenis makanan yang telah difortifikasi oleh zat besi.

Alergi makanan laut (seafood)

Nutrisi dalam seafood: protein, niasin, serta vitamin A, E, B6, dan B12

Kualitas makanan seringkali mempengaruhi reaksi tubuh kala menyantapnya. Itu sebabnya, pastikan kesegaran makanan laut sebelum menyajikannya bagi keluarga. Bagi anak yang betul-betul tidak bisa menyantap seafood, Bunda bisa mencukupi kebutuhan proteinnya dari konsumsi daging sapi, daging kambing, daging unggas, telur, dan susu serta produk olahannya. Kacang-kacangan dan biji-bijian juga merupakan sumber protein yang baik dan kaya kandungan beraneka jenis vitamin.


















Kenali Alergi Kulit Pada Bayi Dan Anak-Anak

Posted by Bundamedik Healthcare System on 09.04 with No comments
Ruam pada kulit bayi yang tidak sembuh-sembuh dapat menjadi salah satu indikasi adanya alergi kulit pada bayi dan anak-anak. Meski alergi adalah kondisi yang umum terjadi, namun sayangnya pada kasus yang menimpa bayi dan anak-anak, alergi bukan sesuatu yang bisa dianggap biasa karena dapat mengganggu kesehatan fisik maupun emosional.

Kondisi alergi kulit sekaligus membuktikan bahwa alergi pada bayi bukan hanya berupa bersin. Yang perlu diwaspadai juga, alergi kulit dapat muncul dalam berbagai bentuk.

Alergi kulit terjadi karena beberapa hal. Pertama, ketika kulit bersentuhan secara langsung dengan penyebab alergi (zat alergen) sehingga kulit mengalami peradangan. Kedua, alergi bisa terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi dengan melepaskan zat kimia berupa histamin saat tubuh bersentuhan dengan alergen.

Jenis Alergi Kulit pada Bayi dan Anak-anak yang Sering Terjadi

Ada beberapa jenis alergi yang kerap menimpa bayi dan anak-anak. Jenis-jenis alergi tersebut adalah:

Gatal-gatal dan pembengkakan 

Gatal-gatal yang dimaksud berupa bercak-bercak atau benjolan berwarna merah yang muncul di permukaan kulit. Gatal ini kadang-kadang tidak muncul terlalu lama, bisa hanya beberapa jam atau hari, kemudian sembuh dengan sendirinya.

Gejala lain yang juga muncul dengan disertai gatal-gatal adalah angioedema. Angioedema adalah pembengkakan yang terjadi di daerah kulit yang lunak, seperti di dalam mulut, di sekitar mata, dan di sekeliling organ kelamin.

Kondisi alergi ini kadang-kadang muncul tanpa pemicu. Meskipun demikian, gigitan atau sengatan serangga, infeksi virus, antibiotik, dan getah tanaman adalah pemicu-pemicu utama. Selain itu, masih ada telur, susu, kedelai, kacang, gandum, dan makanan laut yang bisa menjadi pemicu lainnya dari alergi ini.

Eksim 

Mungkin selama ini Anda belum menyadari bahwa eksim pada umumnya terjadi pada bayi atau anak-anak yang memiliki riwayat alergi makanan, rhinitis alergi, atau asma. Alergi kulit pada bayi dan anak diawali dengan kemunculan ruam pada kepala atau wajah. Setelah itu dapat menyebar ke area dada dan lengan.

Selain berupa ruam, tanda-tanda eksim lainnya meliputi kulit di bagian terkait yang mengering atau menebal atau adanya infeksi kulit secara berulang. Makin digaruk, maka akan terasa makin gatal.

Ahli medis tidak dapat menentukan penyebab kondisi ini secara pasti, namun para ahli medis menyarankan untuk menghindari keadaan yang bisa membuat berkeringat, kulit kering, penggunaan sabun atau deterjen tertentu, atau bersentuhan dengan kain yang kasar, apabila tidak ingin eksim terasa makin gatal.

Ruam akibat Alergi

Jenis alergi ini dapat terjadi jika bayi atau anak-anak menyentuh langsung pemicunya. Benda-benda yang dimaksud misalnya kosmetik, bahan kimia, bahan pewarna sepatu, bahan-bahan yang terdapat pada pasta gigi dan obat kumur, obat-obatan yang digunakan pada kulit, dan logam.

Kondisi yang disebabkan kontak langsung ini disebut alergi dermatitis kontak. Gejalanya berupa ruam yang menjadikan kulit kemerahan, tebal, atau bersisik. Dermatitis kontak terasa sangat gatal.

Alergi karena air liur

Alergi pada anak juga dapat disebabkan oleh air liur yang membasahi mulut dan dagu. Banyak orang tua yang mengira ruam tersebut terjadi karena alergi terhadap makanan yang dikonsumsi oleh bayi. Padahal, kulit kemerahan yang kerap disertai benjolan kecil tersebut adalah akibat kontak dengan air liur.

Ruam tersebut bahkan dapat menjalar ke area dada. Namun, selama ruam itu tidak berkerak atau berwarna kuning yang mengindikasikan infeksi, maka tidak perlu dikhawatirkan.

Alergi kulit pada bayi dan anak-anak kadang tampak mengkhawatirkan, tetapi ada juga yang tidak perlu dicemaskan. Agar Anda tidak bingung dalam menyikapi kondisi ini, disarankan untuk memeriksakan anak kepada dokter untuk memastikan kondisi tersebut.























Jenis Makanan Pemicu Alergi pada Anak

Posted by Bundamedik Healthcare System on 09.04 with No comments
Pernahkah Anak Bunda mengeluhkan mata berair, gatal dan kemerahan di kulit, tenggorokan gatal, pembengkakan pada bagian tubuh tertentu, sesak, ataupun pilek setelah mengonsumsi jenis makanan tertentu? Jika benar demikian, maka mungkin saja Anak Bunda mengalami alergi.  

Berikut jenis makanan yang banyak menimbulkan alergi pada anak dan jenis makanan lainnya yang umumnya merupakan alergen bagi anak-anak seperti: 

Tomat, Mungkin masih banyak orang tidak tahu bahwa tomat bisa jadi pencetus alergi. Alergi terhadap tomat ini jarang terjadi dan penyebabnya bisa ada pada biji dan kulitnya. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh data bahwa sebanyak 5,9% anak yang sensitive terhadap allergen tomat.

Cokelat, Protein yang terdapat pada coklat dapat menimbulkan reaksi  imun. Menurut data penelitian, ditemukan sekitar  2,9.persen anak yang sensitif terhadap alergen cokelat.

Kacang kedelai (Soya), Protein di kedelai juga dapat menyebabkan alergi. Anak yang sensitif terhadap alergen soya dijumpai sebanyak 7,4 persen.


Kuning telur, Telur adalah salah satu sumber protein hewani yang banyak digemari oleh masyarakat Indonesia, tidak terkecuali anak-anak. Telur terdiri dari putih telur dan kuning telur. Kuning telur banyak mengandung lemak sedangkan putih telur banyak mengandung protein. Sumber penyebab alergi makanan adalah protein yang ada di dalam telur. Karena itu,kuning telur kurang bersifat alergenik dibanding putih telur. Terdapat sekitar 8,8 persen anak yang sensitif terhadap alergen kuning telur.

Putih telur, Konsumsi putih telur dapat memicu reaksi alergi pada  8,8 persen anak yang datanya diikutsertakan dalam penelitian.

Daging ayam, Daging ayam juga termasuk makanan kesukaan anak-anak. Namun, ada sebagian kecil anak, yaitu sebanyak 7,4 persen, yang alergi terhadap daging ayam.

Tuna, Salah satu jenis ikan yang dapat menyebabkan alergi adalah ikan tuna. Alergen yang terdapat pada ikan adalah allergen-M. Penelitian menyebutkan terdapat sekitar 4,4 persen anak yang sensitif terhadap alergen tuna.

Kerang (oyster), Jumlah anak yang tidak bisa menikmati enaknya daging kerang karena alergi adalah sebanyak 8,8 persen.

Susu sapi, Protein susu sapi dapat menimbulkan alergi baik dalam bentuk susu murni atau bentuk lain seperti es krim, keju dan kue. Pada umumnya produk olahan susu jauh lebih digemari oleh anak dibandingkan susu itu sendiri. Dalam penelitian ini diperoleh data bahwa sebanyak 10,3 persen anak sensitif terhadap alergen susu sapi (positif).