Selasa, 04 April 2017

Anak Gemuk, Anak Sehat ?

Posted by Bundamedik Healthcare System on 08.12 with No comments
Anak kecil berbadan gemuk terlihat menggemaskan. Namun, sesungguhnya ada ancaman kesehatan. Para ibu patut waspada jika tidak berbagai masalah dapat terjadi. Salah satunya diabetes saat dewasa.

Dr. Andi Nanis Sacharina, SpA(K) mengerutkan dahi mengetahui data yang ada. Balita yang obesitas jumlahnya terus naik. Penelitian menyebutkan, relevansi kegemukan anak, dengan munculnya penyakit berbahaya di masa mendatang.

Upaya dokter spesialis anak itu member penyadaran bahaya anak kegemukan mungkin tak mudah. Pandangan masyarakat yang salah selama turun temurun, adalah ganjalan utama.

”Ini kecenderungan dan sudah stagnan di kepala kita, takut anak kekurangan gizi, cenderung memanjakan anak dengan makanan, tanpa melihat komposisinya, dan cenderung lihat anak yang gemuk itu lucu, malu kalau anaknya kurus,” ujarnya.

Padahal yang benar, anak tak boleh asal gemuk. Tapi anak harus tumbuh proporsional sesuai usia. Proporsional antara berat, tinggi badan dan jenis kelamin.

Dr. Andi Nanis wajar terus memberikan peringatan. Anak gemuk berkorelasi munculnya diabetes (DM) tipe 2, hipertensi, dan penyakit jantung koroner. Anak biasanya hanya terkena DM tipe 1. Tapi dengan makin tingginya obesitas, kasus DM tipe 2 meningkat.

Data di luar negeri menunjukkan, awalnya hanya 5-10 persen kasus DM anak-anak di AS dengan DM tipe 2. Namun, kini telah menjadi 30 persen, dan sekitar 80 persen anak DM tipe 2 mengalami obesitas.

Karenanya, angka overweight menjadi perhatian serius negara itu. Pada tahun 1970-2000 overweight meningkat dari lima ke 15 persen, untuk anak dan remaja meningkat hingga tiga kali lipat.

Sedangkan di Indonesia angka Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), tahun 2007-2010 diketahui terjadi kenaikan dua hingga tiga persen untuk anak berusia di bawah 15 tahun. Angka ini sudah cukup signifikan. ”Seperti epidemi di dunia, sejalan antara peningkatan obesitas, sementara di masyarakat kita lebih menonjol masalah malnutrisi yang berhubungan dengan kurang gizi. Jadi ternyata obesitas dan kurang gizi sama-sama menjadi masalah yang perlu mendapat perhatian serius,” sebut dr. Andi Nanis.

Padahal kegemukan secara perlahan akan dapat menyebabkan DM tipe 2. Jika ketika masih anak atau remaja sudah gemuk, sudah muncul resistensi insulin di usia lebih dini. ”Kita harapkan, setelah masuk pubertas, jangan sampai anak kita overweight. Fase anak ke pubertas kita harapkan naik cuma dua kilogram per tahun. Kalau obesitas harus skrining, agar tahu apakah ia berisiko kena DM tipe 2 atau tidak,” ujarnya.

Skrining dilakukan pada anak gemuk yang berisiko DM tipe 2. Anak yang memiliki riwayat keluarga, ayah-ibu atau nenek-kakek dengan DM tipe 2 atau menunjukkan tanda resistensi insulin dianggap berisiko DM tipe-2. Tanda resistensi insulin pada anak dapat berupa kulit berwarna hitam keunguan, seperti daki pada tengkuk atau ketiak, dan lipatan paha.

Untuk skrining, biasanya dokter akan meminta pemeriksaan gula darah puasa. Kadar gula darah diperiksa setelah anak puasa selama minimal delapan jam, dan bila hasilnya >126 mg/dL dianggap mengalami diabetes.

Kegemukan dilihat dari Body Mass Index atau proporsi berat badan menurut tinggi badan. Juga lingkar perut di atas 80 persentil (menurut Tabel lingkar perut menurut usia) sudah dianggap berlebih. Ini lebih baik dicari tahu, apakah ada penyakit hormonal atau bawaan, ataukah kegemukan akibat faktor luar seperti asupan makan berlebih dan cara hidup yang tidak aktif.

Sebenarnya sangat jarang anak kecil di bawah tiga tahun mengalami kegemukan. Biasanya kegemukan setelah usia tersebut. Untuk kasus kegemukan ini diperlukan pendekatan khusus pada orangtua, karena dikhawatirkan akan tersinggung.

”Jadi untuk usia di bawah 10 tahun, bila obesitas tidak berlebihan tidak dianjurkan skrining, usia 10 tahun ke atas obesitas, baru diskrining. Mungkin awal-awal hanya awasi proporsi penambahan berat badan terhadap tinggi badan, dengan mengatur pola asupan makanan dan anjuran olah raga atau meningkatkan aktivitas fisik. Setelah 10 tahun masih gemuk harus waspada,” ujarnya.

Selain itu perlu pendekatan di keluarga. Disarankan family education untuk menghindari pola makan berlebih, tak sehat dan tak seimbang. Pola makan di keluarga harus diperbaiki. Biasanya anak kecil yang nangis langsung diberi makan agar diam.

Selain itu pola hidup keluarga diarahkan agar lebih banyak bergerak (beraktivitas). Hal ini diharapkan anak gemuk merasa terdorong oleh seluruh keluarga, dan tak merasa tersisihkan karena kondisi tubuhnya gemuk.

Depkes telah membuat buku pedoman untuk sekolah guna mencegah, mendeteksi obesitas, dan komplikasinya pada siswa. Yakni antara lain mengatur pola makan dan aktivitas fisik. Seluruh siswa (baik kurus atau gemuk) perlu ikut program olahraga.

Sedangkan di rumah, anak anak juga tidak boleh aktivitas diam yang terlalu lama. Misalnya, nonton TV, dan main game di TV atau gadget sambil duduk dibatasi paling lama dua jam per hari. Dianjurkan sehari minimal olah raga selama 60 menit. Lalu jika terlanjur gemuk? harus menjaga proporsi tubuh anak, dan pintar mengatur menu makanan berimbang. Anak juga harus diajak olahraga dan aktivitas fisik sedini mungkin.

Perlu diingat bila anak gemuk terkena DM, maka penyakitnya bisa lebih berbahaya dari orang dewasa. Setiap orangtua, jika sayang dan memerhatikan masa depan anaknya, sepertinya jangan menganggap remeh data ini. Karena kegemukan di usia anak meningkatkan risiko kematian dini. Penyakit seperti diabetes mellitus, hipertensi, penyakit jantung koroner dapat dialami dan membahayakan jiwa di usia lebih cepat muda.


Diabetes yang tak terkontrol akan membahayakan organ tubuh seperti ginjal, mata, pembuluh darah dan jantung, juga saraf. Jadi bukan saja kematian dini, tapi anak atau remaja yang mengalami diabetes berisiko mengalami kecacatan tubuh, seperti kebutaan dan amputasi bagian tubuh, karena luka yang sulit disembuhkan. ”Kata kasarnya, orangtua yang membiarkan anaknya kegemukan, mengharapkan anaknya bermasalah. Ini terbukti dari penelitian, anak gemuk risikonya meningkat lebih dari dua kali lipat untuk mengalami kematian sebelum usia 50 tahun,” ingat dr. Andi Nanis.























0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.