• Manfaat Omega 3 Untuk Anak

    Omega 3 memiliki banyak manfaat bagi kesehatan, salah satunya untuk kecerdasan otak. Omega 3 adalah asam lemak esensial, yaitu lemak yang diperlukan untuk kesehatan tetapi tidak dapat diproduksi sendiri oleh tubuh. Asam lemak omega 3 dapat diperoleh dari ikan seperti ikan tuna .

  • Atasi Demam Pada Balita

    Demam pada balita sering terjadi. Demam bukanlah sejenis penyakit, tapi demam adalah tanda sistem pertahanan tubuhnya sedang aktif bekerja. Tidak jarang tubuh balita terasa hangat dan jika diukur hanya naik 0,5 derajat dibandingkan suhu tubuh normal, 36 derajat Celsius. Jika balita panas .

  • Rahim Menekuk Ke Belakang (Retofleksi)

    Rahim retrofleksi adalah letak rahim yang cenderung menekuk ke belakang, ke arah saluran pelepasan. Diperkirakan ada sekitar 30% wanita memiliki rahim retrofleksi. Mayoritas wanita memiliki rahim yang letaknya cenderung ke depan dan condong ke arah perut, yang dinamakan posisi rahim antefleksi. .

  • Kejang pada Bayi

    Kejang dapat terjadi sebagai akibat dari adanya kontraksi otot yang berlebihan yang berlangsung dalam jangka waktu tertentu dan di luar kendali. Tingginya suhu tubuh pada anak merupakan salah satu penyebab terjadinya kejang demam, istilahnya kejang deman (convalsio febrilis) atau stuip/step.

  • Kenali Penyakit Meningitis

    Meningitis merupakan peradangan pada selaputotak atau sumsum tulang belakang.Jika peradangan terjadi pada daerah tulang belakang dikenal dengan sebutan spinal. Sementara granial meningitis adalah sebutan meningitis yang menyerang daerah otak.

Rabu, 24 Agustus 2016

Kaki Ibu Bengkak? Jangan Panik

Posted by Bundamedik Healthcare System on 07.49 with No comments
Selama masa kehamilan, tubuh ibu akan lebih banyak memproduksi darah dan cairan sebagai pemenuhan kebutuhan sang janin. Namun, sering kali meningkatnya produksi cairan pada tubuh ibu menyebabkan terjadinya pembengkakan pada bagian kaki ibu hamil. bengkak pada kaki ini dikenal dengan sebutan edema.

Edema seringkali dijumpai pada ibu hamil yang berada pada usia kehamilan trimester kedua hingga trimester ketiga. Edema terjadi karena adanya perubahan keseimbangan volume cairan dalam tubuh dan menyebabkan cairan tersebut terperangkap dalam suatu jaringan. Membesarnya rahim juga menyebabkan terjadinya penimbunan cairan serta menghambat aliran darah pada kaki ibu hamil, sehingga kaki menjadi nampak bengkak.

Masalah bengkak pada kaki ini dapat diminimalisir dengan beberapa cara yang dipercaya ampuh, yakni:

  • Menghindari aktifitas yang terlalu berat
  • Banyak mengonsumsi buah dan sayur
  • Banyak minum air putih
  • Menjalani olahra kehamilan
  • Menghindari duduk dengan menyilangkan kaki
  • Mengurangi konsumsi garam
  • Mengkompres dan memijat halus kaki yang bengkak
  • Mengurangi pemakaian celana atau pakaian yang terlalu ketat
  • Menggunakan alas kaki yang nyaman (hindari alas kaki bertumit tinggi)
  • Meninggikan kaki dengan bantal sewaktu tidur guna memperlancar aliran darah
  • Hindari berdiri yang terlalu lama dan duduk yang terlalu lama
  • Bila bertambah parah, bed rest

Edema selama masa kehamilan sesungguhnya tidak berbahaya. Edema akan hilang dengan sendirinya usai masa kehamilan berlangsung. Namun, jangan terlalu menganggap sepele bengkak pada tubuh ibu, karena terdapat pula bengkak yang tidak normal yang disebabkan oleh preeklamsia.

Kasus pembengkakan akibat preeklamsia ini terjadi jika bengkak yang dialami ibu hamil dirasa tidak wajar, seperti terjadi pembengkakan pada bagian kaki, muka, tangan, serta bengkak tersebut disertai dengan rasa nyeri dan pusing. Preeklamsia terbilang cukup berbahaya bagi ibu dan juga kesehatan sang janin. Maka sangat disarankan untuk memeriksakan kondisi tersebut ke dokter dengan segera jika bengkak yang dialami oleh ibu tidak berkurang meskipun sudah bedrest.


















Selasa, 23 Agustus 2016

Trombofilia, Penyebab Sulit Hamil dan Keguguran Berulang

Posted by Bundamedik Healthcare System on 07.09 with No comments
Kejadian keguguran berulang yang kerap terjadi pada pasangan merupakan hal yang sangat emosional pada kehidupan pasangan tersebut. Pasalnya setiap pasangan pasti mendamba-dambakan kehamilan yang sehat dan lancar hingga waktu persalinan tiba, dan jika terjadi hal buruk seperti keguguran pasti akan memberikan rasa kehilangan yang mendalam dan frustasi.

Keguguran yang berulang bukanlah tanpa sebab, kejadian ini biasanya dipengaruhi oleh faktor hormonal, kondisi rahim, adanya infeksi, sistem kekebalan tubuh yang turun , serta adanya kelainan kromosom pada janin. Namun suatu studi terbaru menunjukkan temuan terbaru yang hingga saat ini masih terus diteliti, yaitu adanya faktor gangguan pembekuan darah pada wanita.

Ketika seorang pasien memiliki kecenderungan untuk membentuk bekuan darah sehingga darah menjadi lebih kental, kondisi ini disebut dengan trombofilia. Darah kental atau trombofilia merupakan kondisi dimana darah kekurangan cairan, sehingga sel yang ada mudah melekat satu dengan lainnya. Trombofilia bisa menjadi peristiwa yang mengancam jiwa jika pembekuan darah tersebut menyumbat aliran darah ke jantung atau otak. Kelainan trombofilia umumnya adalah kelainan yang diturunkan. Tidak selalu merupakan penyakit turunan, trombofilia juga dapat disebabkan oleh kondisi luar seperti akibat operasi, obesitas, kehamilan, penggunaan kontrasepsi oral, sindrom antifosfolipid, atau kondisi imobilitas pada waktu yang cukup lama.

Kasus trombofilia dicurigai pada wanita yang memiliki pembuluh darah tersumbat pada usia muda atau terlebih bagi yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit stroke, emboli paru, atau trombosis vena. Namun, ada beberapa wanita yang juga memiliki trombofilia dengan tidak mengalami gejala apapun, ataupun jika mereka memiliki gejala, umumnya karena keluhannya dapat dikategorikan sangat ringan sehingga kondisi trombofilia sering tidak terdiagnosis.

Wanita hamil biasanya lebih sensitif terhadap berbagai kondisi yang dialaminya selama masa kehamilan, sehingga dapat dengan cepat menyadari apa yang aneh atau berbeda pada tubuhnya. Pada kasus trombofilia, umumnya gejala yang dapat dialami seperti pembengkakan atau rasa nyeri di satu kaki, rasa sakit yang berlebih ketika berjalan, dan vena yang lebih besar dari ukuran normalnya.

Beberapa penelitian menunjukkan hubungan yang kuat antara trombofilia dan terjadinya keguguran berulang. Penyebab berubahnya faktor pembekuan darah yang menyebabkan trombofilia adalah mutasi faktor V Leiden dan mutasi prothrombin G20210A sebagai pertanda genetik. Kedua mutasi genetik tersebut adalah penyebab paling umum dari trombofilia. Hal ini dapat diperiksa melalui beberapa pemeriksaan darah yang mudah pada wanita.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pasien yang mengalami keguguran berulang mungkin memiliki satu atau lebih pertanda genetik kondisi trombofilia. Satu studi menemukan bahwa 19 % dari pasien yang keguguran ( 15 dari 80 ) memiliki mutasi faktor V Leiden. Indikator lain dari trombofilia ( seperti mutasi protrombin, resistensi protein C, defisiensiprotein S, dan defisiensi antitrombin III ) juga lebih banyak ditemukan di kalangan wanita yang sering mengalami keguguran  

Pengobatan yang digunakan untuk mengatasi kondisi trombofiilia adalah obat pengencer darah, baik jenis tablet maupun suntikan. Pengobatan ini dilakukan untuk meningkatkan aliran darah ke organ kandungan dan menjaga kehamilan agar tetap baik dan meminimalisir terjadinya keguguran. Semua pasien yang menerima pengobatan harus dipantau secara berkala selama masa kehamilannya dan kondisi kekentalan darahnya. Penting untuk diperhatikan pula penambahan asupan suplemen kalsium yang juga harus diberikan selama pengobatan.

Trombofilia dapat dikatakan telah terbukti menjadi penyebab utama keguguran berulang , sehingga pasien dengan keguguran berulang harus mendapat pengawasan cukup ketat atau perlu dilakukannya evaluasi untuk gangguan pembekuan, bahkan tanpa adanya tanda-tanda klinis. Hal ini dilakukan terutama apabila keguguran terjadi setelah detak jantung janin terdeteksi. Ketika hasil lab menunjukkan gangguan pembekuan, perawatan yang tepat dan tindak lanjut harus dimulai sesegera mungkin guna keselamatan ibu dan janin.



















Senin, 22 Agustus 2016

Kenali Eklampsia Pada Kehamilan

Posted by Bundamedik Healthcare System on 07.41 with No comments
Kumpulan gejala penyakit yang terdiri dari "trias HPE (hipertensi, proteinuria, dan edema) pernah diberi nama "toksemia gravidarum." Dalam keadaan yang lebih berat trias gejala ditambah dengan kejang atau koma sehingga keadaan menjadi le­bih gawat. Komplikasi kehamilan merupa­kan penyebab penting kematian ibu maupun janin dalam rahim, sehingga diperlu­kan pengawasan yang baik dan seksama.

Penyebab komplikasi kehamilan tidak diketahui dengan jelas sehingga disebut sebagai penyakit teoritis. Sebagai faktor yang dapat meningkatkan kejadiannya adalah kehamilan pertama kali (primi­gravida) kejadiannya lebih tinggi, kejadi­annya akan makin tinggi pada penyakit ibu yang menyertai hamil (penyakit ginjal, penyakit tekanan darah tinggi), ke­hamilan dengan regangan rahim makin tinggi (hamil dengan kebanyakan air ketuban, kehamilan ganda, hamil dengan janin besar).

Komplikasi/penyulit langsung keha­milan yang menyebabkan terjadi trias kehamilan disebut pre-eklampsia (ringan, berat) dan eklampsia (artinya "halilintar"). Pre-eklampsia dan eklampsia merupakan penyakit yang berkelanjutan dengan batas atau tambahan "kejang atau koma" Ang­ka kematian ibu maupun janin pada "ek­lampsia" melonjak tinggi sehingga untuk menurunkan angka kematian tersebut di­harapkan dapat menetapkan penyakit pada keadaan "pre-eklampsia ringan" yang penyembuhannya lebih mudah dan berha­sil baik. Pre-eklampsia ringan masih dapat berobat jalan dengan diet pantang garam,kontrol setiap minggu. Disamping itu diberikan nasehat bila keluhan makin meningkat disertai gangguan subjektif, disarankan untuk segera kembali meme­riksakan diri.

Pre-eklampsia berat merupakan kelanjutan pre-eklampsia ringan. Apabila gejala klinik ini dijumpai dianjurkan untuk masuk rumah sakit, sehingga mendapatkan perawatan dan pengobatan adekuat. Tu­juan pengobatan untuk menghindari agar jangan sampai terjadi "eklampsia" yang mempunyai angka kematian yang tinggi pada janin dan ibunya. Bila dianjurkan untuk masuk rumah sakit berarti keadaan "pre-eklampsianya" sudah memerlukan perawatan dan pengobatan intensif.

Eklampsia merupakan kelanjutan dari "pre-eklampsia berat" ditambah dengan kejang atau koma yang dapat berlangsung mendadak seperti halilintar. Dalam keadaan "eklampsia" sudah agak sulit untuk mendapatkan pengobatan dan perawatan, sehingga angka kematiannya tinggi. Untuk menambah pengertian tentang berbagai aspek pengobatan pre-eklampsia dan eklampsia akan dijabarkan sebagai berikut. Konsep utama perawatan pralahir adalah menemukan secara dini penyakit yang menyertai ibu hamil dan selanjutnya memberikan pengobatan melakukan kon­sultasi dengan dokter lain yang lebih berkompetensi, menentukan secara dini penyulit hamil khususnya "pre-eklampsia atau eklampsia" sehingga dapat memberi­kan perawatan dan pengobatan, meng­golongkan kehamilan dengan risiko rendah, risiko tinggi, atau risiko meragukan sehingga dapat melakukan rujukan ke rumah sakit secara dini. Pre-eklampsia dan eklampsia mempunyai keistimewaan mudah menerima rangsangan yang dapat memberatkan penyakitnya.

Peningkatan pelayanan kebidanan yang lebih bermutu dan menyeluruh maka kematian yang disebabkan perdarahan dan infeksi dapat dihindari, tetapi kematian karena "eklampsia" sulit diturunkan. Untuk memperkecil kematian eklampsia maka pelaksanaan pengawasan hamil per­lu ditingkatkan, sehingga kejadian "ek­lampsia" semakin dini dapat diketahui. Kepada ibu hamil dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan hamil yang reratur sesuai dengan jadwal yang telah disepakati bersama.

Dr. Aditya Kusuma SpOG, K.Fer
HIGH RISK PREGNANCY CLINIC  - RS BUNDA JAKARTA

Jl Teuku Cik Ditiro 28 Menteng Jakarta Pusat Telp, 021-3192 2005  Call Center  1-500-799


















Sabtu, 20 Agustus 2016

Pemeriksaan Skrining Preeklamsia untuk Kehamilan

Posted by Bundamedik Healthcare System on 07.27 with No comments
Preeklamsia merupakan komplikasi yang relatif sering didapatkan selama kehamilan, yaitu sekitar 2-8 dari 100 kehamilan (2-8%). Preeklamsia ini merupakan keadaan yang hanya didapat selama kehamilan (setelah kehamilan usia 20 minggu) sampai dengan 6 minggu pasca persalinan. Preeklamsia dapat memiliki dampak buruk untuk jangka pendek dan panjang terhadap diri anda (ibu hamil) dan juga janinnya. 

Apakah penyebab dari preeklamsia?
Penyebab pasti preeklamsia tidak diketahui namun pada dasarnya masalahnya terdapat di plasenta (ari2). Plasenta inilah yang menghubungkan ibu hamil dengan janinnya dan plasenta pulalah yang menyalurkan makanan dan oksigen dari darah ibu hamil ke janinnya. 
Pada preeklamsia, plasenta tidak mendapatkan darah yang cukup dari anda sehingga tidak dapat memenuhi jumlah sesuai kebutuhan. 

Bagaimana preeklamsia dapat mempengaruhi saya?
Kebanyakan wanita dengan preeklamsia hanya sedikit terkena, namun hanya sebagian kecil wanita terkena komplikasi serius preeklamsia (kejang / eklamsia0. 
Diagnosis preeklamsia pada dasarnya ditegakkan atas dasar:
  • tekanan darah tinggi
  • Adanya protein yang bocor dan masuk ke dalam urin
Bagaimana preeklamsia dapat mempengaruhi janin saya?
Pada beberapa keadaan preeklamsia, janin bisa saja dapat tetap sehat. Namun pada beberapa keadaan, janin perlu dipantau untuk pasokan nutrisi dan oksigen untuk pertahankan pertumbuhannya dalam rahim. Terkadang pada preeklamsia berat, janin perlu dilahirkan lebih dini sehingga masih dalam keadaan prematuritas. 

Apakah saya berisiko?
Preeklamsia pada dasarnya dapat mengenai siapa saja, namun terdapat beberapa faktor risiko seperti:
  • Kehamilan pertama
  • Bila anda, ibu anda atau saudara perempuan anda memiliki riwayat preeklamsia
  • Anda memiliki indeks massa tubuh 35 atau lebih
  • Usia anda 40 tahun atau lebih
  • Kehamilan multipel seperti kembar 2, 3 atau lebih
  • Memiliki masalah medis seperti masalah pada ginjal atau diabetes
  • Kehamilan bayi tabung / IVF
Apa yang dimaksud dengan pencegahan preeklamsia?
Pencegahan preeklamsia bertujuan untuk mencegah atau menunda timbulnya preeklamsia. Dengan keberhasilan pencegahan preeklamsia, kehamilan dapat dilanjutkan dengan aman dan janin dapat tumbuh dengan optimal. 

Pencegahan akan optimal bila dilakukan sebelum usia kehamilan 16 minggu. 

Bagaimana skrining preeklamsia dilakukan? 
Skrining preeklamsia dilakukan pada trimester pertama tepatnya antara usia 11-14 minggu. 
Pemeriksaan skrining ini meliputi :
  • riwayat kesehatan ibu hamil dan informasi demografik (tinggi, berat, etnis, riwayat merokok)
  • pengukuran tekanan darah dari kedua lengan
  • pemeriksaan darah - PLGF (Placental Growth Factor) dan PAPP-A (Pregnancy-Associated Plasma Protein). 
  • Pemeriksaan USG (arus darah ibu - Arteri uterina)
Bagaimana pelaksanaan skrining preeklamsia?
Skrining preeklamsia dilakukan di hari yang sama dengan skrining sindroma Down dan memerlukan pemeriksaan darah anda. Kemudian dokter akan menggabungkan hasil pemeriksaan dengan data lainnya (riwayat kesehatan ibu, tekanan darah dan USG) dan akan beritahukan hasilnya pada anda. 

Apakah hasil yang didapatkan dari pemeriksaan skrining preeklamsia?
  • Risiko rendah
Risiko rendah berarti kecil kemungkinan anda akan mendapatkan preeklamsia pada kehamilan anda. Namun yang perlu diingat, risiko rendah bukan berarti anda tidak mungkin mendapatkan preeklamsia 
Risiko rendah berarti anda hanya melanjutkan pemeriksaan kehamilan seperti biasanya. 
  • Risiko tinggi
Risiko tinggi tidak berarti anda pasti mendapatkan preeklamsia. Namun dengan mengetahui kehamilan anda berisiko tinggi, maka memungkinkan dilakukannya pencegahan dan juga membantu pemantauan kehamilan anda

Skrining untuk Sindroma Down, Edwards dan Patau

Pemeriksaan skrining kelainan kromosom akan ditawarkan pada tiap wanita hamil untuk melihat adanya kelainan kromosom 21 (sindroma Down), 18 (sindroma Edwards) dan 13 (Patau).
Pemeriksaan skrining yang diberikan pada usia 11-14 minggu disebut dengan pemeriksaan kombinasi (combined screening) karena merupakan kombinasi dari pemeriksaan darah dan USG.
Di akhir pemeriksaan, anda akan mendapatkan angka yang menunjukkan risiko janin anda mendapatkan kelainan kromosom.

Apakah sindroma Down, Edward dan Patau?
Di dalam tubuh kita, terdapat beberapa struktur kecil yag disebut dengan kromosom. Tiap  kromosom membawa gen yang menentukan bagaimana kita berkembang. Terdapat 23 pasang kromosom di tiap sel manusia.
  
Sindroma Down
Pada sindroma Down, terdapat ekstra copy di kromosom 21 pada tiap selnya. Bayi yang terlahir dengan keadaan ini akan memiliki kesulitan dalam belajar. Mereka juga akan memiliki kesulitan dalam berkomunikasi.
Janin dengan sindroma Down, juga dapat memiliki masalah kesehatan seperti kesehatan jantungnya, pendengaran dan penglihatan.

Sindroma Edward dan Patau
Pada sindroma Edward, terdapat ekstra copy pada kromosom 18 pada tiap selnya. Sedangkan pada Patau terdapat ekstra copy pada kromosom 13.di tiap selnya.
Mayoritas janin dengan kelainan 2 kromosom ini akan meninggal dalam rahim atau segera setelah bayi lahir.
Semua bayi yang terlahir dengan kelainan kromosom ini, akan memiliki masalah serius pada kesehatannya seperti masalah pada otak, jantung.

Seperti apakah skrining untuk kelainan kromosom ini?
Pemeriksaan kromosom ini akan diberikan pada usia kehamilan 11-14 minggu, dimana pemeriksaan skrining ini disebut pemeriksaan skrining kombinasi karena merupakan gabungan dari hasil pemeriksaan darah dan USG.
Bila usia kehamilan anda lebih lanjut lebih dari usia 14 minggu, yaitu tepatnya 14-20 minggu, anda masih akan dapat melakukan pemeriksaan skrining untuk sindroma Down, namun pemeriksaan ini tidak akan seakurat pemeriksaan pada usia 11-14 minggu.

Apakah pemeriksaan ini akan membahayakan untuk saya dan janin saya?
Pemeriksaan skrining tidak akan membahayakan untuk anda dan janin anda. Namun yang perlu diingat, dari pemeriksaan ini hanya akan mengatakan apakah janin anda berisiko tinggi atau tidak, jadi bukan mengatakan janin anda pasti memiliki kelainan kromosom atau tidak.

Bila dari hasil pemeriksaan ini menunjukkan janin anda memiliki risiko tinggi, anda akan ditawarkan pemeriksaan diagnostik untuk mengkonfirmasi benar tidaknya janin anda memiliki kelainan kromosom.
Pemeriksaan diagnostik ini berupa pemeriksaan untuk mengambil jaringan plasenta atau cairan ketuban, dan pemeriksaan diagnostik memiliki risiko 1% untuk terjadinya keguguran.

Hasil Pemeriksaan Skinning
Hasil pemeriksaan akan menunjukkan kemungkinan janin memiliki sindroma Down, Edwards atau Patau.

Bila hasil menunjukkan risiko lebih rendah daripada 1:150, maka dikatakan memiliki risiko rendah untuk mendapatkan kelainan kromosom. Namun risiko rendah tidak berarti 100% tidak akan memiliki kelainan tersebut.

Bila hasil pemeriksaan skrining menunjukkan risiko tinggi yaitu lebih tinggi dari 1:150 maka dikatakan janin anda berisiko tinggi untuk mendapatkan kelainan kromosom.

Seberapa akuratkah pemeriksaan skrining kombinasi ini?
Pemeriksaan kombinasi ini memiliki akurasi 90% dengan angka false positive rate 5%. 

Dr. Aditya Kusuma SpOG, K.Fer
HIGH RISK PREGNANCY CLINIC  - RS BUNDA JAKARTA
Jl Teuku Cik Ditiro 28 Menteng Jakarta Pusat Telp, 021-3192 2005  Call Center  1-500-799






















Jumat, 19 Agustus 2016

Pemeriksaan USG Tiap Trimester Kehamilan

Posted by Bundamedik Healthcare System on 07.15 with No comments

Pemeriksaan USG memiliki fungsi yang berbeda-beda dalam setiap trimester kehamilan. Trimester pertama (usia kehamilan 10-14 minggu) berguna untuk mendeteksi adanya kelainan down syndrome , yaitu dengan mengukur nuchal (penebalan cairan di belakang leher dan di bawah kulit janin) dan nasal bone (tulang hidung). 

Trimester kedua (18-27 minggu kehamilan) USG dilakukan untuk melihat perkembangan organorgan tubuh bayi (morfologi). Sementara trimester ketiga (28-32 minggu) dilakukan untuk menilai pertumbuhan dan perkembangan bayi, seperti berat badan. Sementara itu, untuk meminimalkan kasus kelainan kromosom, perlu dilakukan deteksi atau pemeriksaan sedini mungkin. “Deteksi kelainan kromosom dapat dilakukan dengan cara invasif dan non invasif,”. 


Pemeriksaan secara invasif dapat dilakukan dengan cara amniocentesis , yakni dengan pengambilan sampel cairan ketuban yang dilakukan pada usia kehamilan sekitar 16-18 minggu. Selain itu, terdapat pula cara Chorionic Villus Sampling (CVS), yakni pengambilan sampel jaringan dari sang bayi yang biasa dilakukan pada saat usia kehamilan 9-12 minggu. 


Namun, pemeriksaan invasif memiliki risiko terjadinya abortus atau gugur kandungan cukup tinggi. Sebagai alternatif untuk menghindari risiko terjadinya abortus, terdapat pemeriksaan secara non-invasif. Pemeriksaan dengan cara USG yang biasa dilakukan pada usia 10-14 minggu kehamilan, dengan cara melihat leher janin (nuchal translusensi ) dan ada tidaknya tulang hidung. 


Kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan morfologi lanjutan yang dilakukan pada usia 18-22 minggu. Tingkat akurasi pemeriksaan USG ini hanya berkisar 75-80%. Melakukan deteksi atau pemeriksaan janin sejak dini sangat dianjurkan bagi setiap ibu hamil. Terutama bagi ibu yang hamil berusia lebih dari 35 tahun. Hal tersebut bertujuan untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya kelainan kromosom pada janin ibu.