Rabu, 05 Oktober 2016

Persalinan Normal Setelah Cesar? Kenapa Tidak?

Posted by Bundamedik Healthcare System on 07.57 with No comments
Seksio Caesaria (SC) adalah prosedur operasi yang umum dikerjakan pada saat ini. Di Indonesia banyak wanita melahirkan bayinya melalui operasi ini. Bertahun tahun telah diasumsi bahwa setelah operasi SC pada kehamilan berikutnya ibu hamil harus dioperasi.

Konsep ini telah banyak berubah dengan peningkatan pelayanan kebidanan dan teknik operasi. Banyak wanita kini yang dapat mempunyai pilihan untuk melahirkan bayinya secara normal (per vagina) dengan aman. Konsep ini yang dikenal sebagai Vaginal Birth Afer Cesarean (VBAC). Dengan penentuan kriteria yang selektif lima sampai delapan ibu hamil akan mampu melahirkan normal.

Alasan VBAC
  • Resiko lebih rendah terhadap komplikasi (seperti perdarahan dan infeksi) dibandingkan dengan operasi SC berulang.
  • Resiko lain yang terkait dengan operasi dapat dihindari seperti resiko reaksi terhadap anestesi, luka trauma terhadap organ perut lainnya, berkurangnya fungsi usus dan infeksi luka perut.
  • Masa nifas yang lebih singkat dan masa perawatan yang lebih cepat.

Perlu diingat bahwa setelah mempertimbangkan resiko umum proses persalinan pada kelompok wanita yang terseleksi, terbukti bahwa resiko komplikasi lebih rendah bila dibandingkan dengan proses SC ulang.

Keputusan untuk mencoba VBAC
Keputusan ini harus didiskusikan dengan dokter anda, karena walau anda mempunyai hak untuk menentukan pilihan akan tetapi pada akhirnya dokter yang akan memeberikan keputusan medis apakah anda dapat mencoba VBAC atau tidak.

Dalam membuat keputusan ini dokter anda akan mempertimbangkan empat faktor utama.
  • Lokasi bekas luka seksio di rahim anda dan tebal segmen bawah rahim yang diukur dengan USG.
  • Apakah indikasi SC sebelumnya masih berlaku pada kehamilan anda saat ini.
  • Bagaimana anda menginginkan metoda persalinan anda.
  • Akses ke rumah sakit.

Kondisi yang tidak memungkinkan untuk VBAC
  • Wanita yang mempunyai insisi klasik atau T terbalik.
  • Lokasi insisi yang tidak diketahui.
  • Operasi sebelumnya pada rahim (seperti pengangkatan myoma).
  • Riwayat ruptur uteri.
  • Apabila wanita memerlukan induksi persalinan dan leher rahim yang berlum matang.
  • Bentuk panggul yang abnormal.
  • Letak bayi yang tidak semestinya (sungsang, lintang).
  • Perkiraan bayi terlalu besar untuk panggul.
  • Perkiraan komplikasi persalinan.
  • Kontraindikasi lainnya seperti letak plasenta rendah (placenta praevia) dan lain lain.

Resiko VBAC
VBAC mempunyai resiko rendah terhadap ruptur uteri, kondisi dimana luka di rahim terbuka pada saat proses persalinan. Komplikasi ini jarang terjadi (sekitar 0.5-0.8%) tetapi dapat berakibat serius.

Tanda tanda ruptur uteri kadang sulit terdeteksi. Salah satu tanda utama adalah perdarahan hebat saat persalinan dan nyeri yang berketerusan diantara kontraksi. Kondisi ini perlu mendapatkan penanganan segera dan dokter akan menganjurkan operasi darurat. Satu dari sepuluh wanita yang mengalami ruptur uteri akan memerlukan histerektomi untuk menghentikan perdarahan. Pada keadaan ruptur uteri satu dari sepuluh kasus akan mempunyai resiko kematian bayi.

Dokter anda akan mendiskusikan secara detail mengenai hal ini dan akan meminta anda untuk menandatangani informed consent.


















0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.